Blogger Pemuja Makanan
Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima
Karena Rasa Tak Pernah Bohong
Home » , , , » Kampoeng Kopi Makassar, Menyajikan Aneka Minuman Kopi Berbahan Baku Biji Kopi Arabika

Kampoeng Kopi Makassar, Menyajikan Aneka Minuman Kopi Berbahan Baku Biji Kopi Arabika


Kali ini Blogger Pemuja Makanan mendapat undangan khusus untuk me-review, sebuah warung atau kedai atau mungkin café, yang tergolong masih baru. Tempat ini bernama “Kampoeng Kopi”, yang lokasinya terletak di Jalan Gunung Bulukunyi, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Dari namanya, sahabat-sahibit blogger se-dunia mungkin sudah bisa menduga-duga, bahwa tempat ini menjual secara khusus menu yang berbahan dasar kopi, atau mungkin hanya minuman yang terbuat dari kopi. Dan memang tebakan kalian itu sungguh benar adanya.

Khusus untuk me-review “Kampoeng Kopi", Blogger Pemuja Makanan membentuk tim khusus spesialis kopi-kopian yang berjumlah tiga orang. Mereka sudah saya kenal sebagai orang-orang yang sangat sering menjelajahi hampir seluruh warung atau kedai kopi yang ada di Kota Makassar.

Tim ini kubentuk agar penilaian untuk Kampoeng Kopi berjalan secara obyektif, dan bukan berdasarkan pendapat dan analisaku sendiri. Melainkan hasil dari pendapat dan analisa secara tim, sehingga outputnya yang dihasilkan bisa dipertanggungjawabkan.

Adapun ketiga orang anggota tim khusus spesialis kopi-kopian teridiri dari ustadz Nursyam Nurwahid, imam rawatib Masjid Miftahul Khayr Makassar, ustadz Amri dan Pak Zainuddin, pemilik kebun kopi di Kabupaten Enrekang.

Sesudah sholat Dhuhur, kami berempat berangkat menuju “Kampoeng Kopi”, setibanya di lokasi, kami langsung memilih untuk duduk di pojok, dekat pintu masuk. Sebagai Blogger Pemuja Makanan, mataku langsung berkelebatan, menyapu seluruh ruangan dan menginvetaris barang apa saja yang ada dalam ruangan ini.

Kampoeng Kopi ini mulai operasional sejak tanggal 28 Desember 2015, jadi belum terlalu lama. Bertempat di bangunan ruko berlantai tiga, yang mana dua lantai digunakan untuk Kampoeng Kopi, dan satu lantai, di lantai tiga digunakan sebagai tempat tinggal.

Interior ruangan lantai satu bergaya art modern dan berkarakter, dengan warna dominan kombinasi hitam dan putih. Hitam untuk langit-langit ruangan, dan putih untuk dindingnya. Di lantai satu, ada sekitar sepuluhan meja bundar mini berwarna coklat kehitaman.

Suasana Ruangan Di Lantai Satu


Dengan sepasang kursi untuk masing-masing meja dengan warna yang sama, hanya lapisan tempat duduknya diberi warna hijau. Hal ini memberi nuansa alami, sehingga bila sahabat-sahibit blogger berkunjung ke sini, bakalan betah duduk berlama-lama.

Beberapa Lampu downlight tergantung di plafond-nya, dan sebuah televisi LCD berukuran besar juga tergantung dilangit-langit, menghadap kea rah meja pengunjung. Pada dinding ada beberapa gambar terpasang. Satu gambar terbuat dari biji-bijian kopi terpajang di dekat di mana kami duduk.

Ruangan Kampoeng Kopi milik pasangan pak Purwanto Martosendjojo dan ibu Zamradiba ini, terasa sangat hangat dan “welcome’ bagi para pengunjung, salah satu penyebabnya adalah karena pada satu bagian dinding nya terpajang beraneka lukisan mini, yang disusun secara acak namun terlihat manis serta dinamis. Konon katanya, lukisan mini itu adalah hasil karya lukis adik perempuan dari istri owner Kampoeng Kopi.

Beraneka Lukisan Mini Menghiasi Dinding Ruangan Di Lantai Satu

Daftar Menu

Kemudian di satu sisi lagi terpajang 3 buah “Blackboard’ yang berisikan daftar menu dari Kampoeng Kopi. Dan sebuah blackboard berukuran besar terpajang dekat meja bar.

Meja bar-nya bergaya minimalis, dengan dua kursi tinggi sebagai pelengkapnya. Sementara kelengkapan utamanya adalah sebuah “Coffee Machine”, sebuah mesin giling biji kopi, showcase kue dan sebuah mesin kasir serta freezer.

Sementara di lantai dua, ruangan nya ditata sedemikian rupa sehingga terasa lebih santai, dengan menempatkan beberapa sofa berwarna-warni. Desain seluruh ruangan yang ada di Kampoeng Kopi ini sangatlah tematik, rupanya hal ini tak lepas dari latar belakang pak Purwanto, yaitu seorang arsitek konsultan teknik dan bangunan.

Rupanya lantai dua ini lebih dikhususkan penggunaannya untuk meeting kecil-kecilan atau sejenisnya, kerana disedikan fasilitas berupa Sound System dan LCD Proyektor. Pada lantai dua pengunjung di larang merokok, sedang lantai satu masih diperbolehkan merokok.

Suasana Ruangan di Lantai Dua

Aneka Fasilitas Perlengkan dan Peralatan Di Meja Bar

Saya mencari-cari kemana gerangan fasilitas Wifi-nya, namun tidak berhasil menemukan, akan tetapi kemudian salah satu ownernya menjelaskan, bahwa memang mereka belum memasang Wifi di Kampoeng Kopi.

Sungguh sangat disayangkan, karena kecenderungan penggunaan Wifi sebagai salah satu daya tarik bagi pengunjung adalah wajib hukumnya diadakan oleh warung atau kedai kopi yang ada di Kota Makassar.

Sekarang marilah kita bicara soal menu. Menu kuliner yang ada di Kampoeng Kopi cukup beragam, terutama menunya yang serba kopi. Mulai dari Kopi Jos, Kopi Hitam, Kopi Susu, Espresso, Es Kopi, Ice Latte hingga Vietnam Drip.

Kuliner selain kopi juga beraneka ragam, namun yang menarik adalah karena Kampoeng Kopi juga menyediakan aneka ragam kuliner khas Bugis Makassar, seperti Songkolo, Putu Labu, Pallumara, dan Pisang Peppe. Bahkan menu dari Arab juga tersedia di sini, seperti Roti Maryam.

Harganya pun bervariasi, mulai dari yang termurah sekitar tujuh ribuan pergelas, hingga yang termahal, tiga puluh lima ribu rupiah per porsi.

Kami berempat memesan menu sesuai selera masing-masing, saya memesan Es Kopi, pak Zainuddin memesan Kopi Susu, Ustadz Amri memesan “Coklat Dingin”, dan ustadz Nursyam memesan Cappucino Latte. Sebagai pendampingnya saya pesan Pisang Peppe se porsi.

Dari Kiri Ke Kanan, Pak Zainuddin, Saya [Hariyanto], ustadz Nursyam dan ustadz Amri

Pelayanannya lumayan cepat dan ramah, pesanan kami datang dibawakan diatas sebuah baki, pelayanan yang standar, sama dengan warung kopi pada umumnya.

Seporsi Pisang Peppe langsung dicicipi, masakan khas Bugis ini sudah lama tidak pernah kami cicipi, sekarang ketemu lagi. Pisang Peppe adalah pisang yang dibuat pipih lalu digoreng kering, makannya bersama sambal atau Lombok.

Menurut ustadz Amri, rasa pisang-nya sudah bagus, enak, namun sambalnya yang kurang, belum ada perasan jeruk limau-nya atau jeruk purut-nya, dan hal itu dibenarkan oleh juru masaknya.

Saya meneguk Es Kopi yang kupesan, rasanya agak berbeda. Enak sih enak, rasanya juga lembut, manis dan tajam namun pas dilidah, bahkan lebih terasa nendang kopinya , tidak seperti kopi-kopi yang pernah kuminum di tempat lain. Ternyata hal yang sama juga dirasakan oleh Pak Zainuddin.

Usut punya usut, rahasianya ternyata terletak pada biji kopinya, kalau kopi-kopi yang digunakan pada umumnya di warung kopi sekota Makassar adalah biji kopi Robusta, akan tetapi di Kampoeng Kopi, yang digunakan adalah biji Kopi Arabika.
Lagipula Kopi Robusta memiliki kandungan kafein dua kali lipat dibanding Kopi Arabika, sehingga menyebabkan rasanya pahit seperti arang dibakar, dan juga memiliki kandungan gula lebih rendah daripada Kopi Arabika. Hal ini menyebabkan Kopi Robusta akan lebih susah manis meskipun ditambah gula atau susu, dibandingkan dengan Kopi Arabika

Asal kalian tahu, di pasaran dunia kopi saat ini, karena Kopi Arabika terasa lebih enak maka harganya jauh lebih tinggi dibandingkan kopi Robusta, dan secara umum, para penikmat kopi memang cenderung lebih menyukai aroma kopi Arabika daripada kopi Robusta.

Akan tetapi dengan memakai bahan baku biji kopi Arabika, tidaklah membuat harga di Kampoeng Kopi menjadi lebih mahal dibanding harga di warung kopi lainnya yang memakai bahan baku biji kopi Robusta. Bahkan harga di Kampoeng Kopi dibuat setara bahkan cenderung sama dengan harga di warung kopi lainnya, meskipun bahan baku kopinya berbeda.

Rasa Cappucino Latte-nya juga sudah pas, menyerupai rasa Cappucino Latte di warung kopi lainnya, demikian juga dengan rasa Coklat Dingin yang dipesan Ustadz Amri.

Secara garis besar, ke tiga orang anggota tim khusus kopi-kopian memberikan cukup pujian dan acungan jempol untuk menu yang kami pesan, meskipun ada beberapa kekurangan dalam catatan tersendiri seperti yang tertulis di bawah ini, yang semestinya dibenahi.

Pelayanannya juga okelah, kebersihan ruangan di lantai satu dan lantai dua juga cukup terjaga. Sirkulasi udara cukup bagus, meskipun hanya dibantu oleh beberapa kipas angin.

Namun biar bagaimana harus ditambah dengan Air Conditioner, terutama untuk lantai dua. At least, mau tidak mau, fasilitas free Wi-Fi harus disediakan oleh owner Kampoeng Kopi, kalau tidak mau pelanggannya lari ke tempat yang ada free Wi-Fi nya.  Dan yang sudah pasti, menu yang ada di Kampoeng Kopi dipastikan halalan thoyiban.

Es Kopi-ku sudah habis kuminum, demikian juga Kopi Susu pak Zainuddin, Coklat Dingin Ustadz Amri dan Cappucino Latte ustadz Nursyam, semunya tandas sudah. Kini saatnya kami pulang, terutama saya, karena harus segera membuat artikel review untuk Kampoeng Kopi, dan menjadikan postingan terbaru di blog-nya Blogger Pemuja Makanan.

Bagi sahabat-sahibit blogger se-dunia yang ingin menjajal aneka minuman kopi berbahan baku biji kopi Arabika saat berada di Kota Makassar, silahkan berkunjung ke warung ini :

Kampoeng Kopi
Jalan Gunung Bulukunyi Nomor 17
Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
Jam operasional : 06.30 pagi s/d 22:00 malam
Harga mulai dari IDR 7.000 s/d IDR 35.000 [Januari 2016]



Tabe’ Salama’ Ki’
Keep Happy Blogging Always, Mari’ Ki’ Di’
Salam Kuliner :-)

SHARE

About Unknown

3 komentar :

  1. tempatnya asyik banget dan bisa untuk segala umur ya om..

    aku suka kopi juga..

    oiya, tapi aku belum pernah nyobain kopi sulawesi.. kirimin buat aku duonk Om..?

    berapa si harganya Om? penasaran banget

    BalasHapus
  2. Insya Allah kalau ada rezeki mau banget maen kesana tuh Bang Har..hhee

    BalasHapus
  3. kelihatannya sangat nyamab sekali cafenya mas, jadi pengen ngopi2 santai disana :)

    BalasHapus

Tiada kesan tanpa jejak komentar sahabat-sahibit yang menakjubkan :-D