Blogger Pemuja Makanan
Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima
Karena Rasa Tak Pernah Bohong
Home » , » Secangkir Jawa

Secangkir Jawa


Mengawali artikel ini, saya ingin mengajak sahabat-sahibit blogger se-dunia untuk sejenak bersama-sama masuk ke dalam kapsul waktu kembali ke zaman kolonialisme di abad ke 17, tepatnya di tahun 1711, di mana saat itu Indonesia masih dalam cengkraman penjajah Kerajaan Belanda.

Pada tahun 1711 inilah, penjajah Belanda melalui Verenigde Oost Indische Compagnie [VOC] melakukan ekspor Kopi perdana keluar Indonesia yang pada zaman itu dikenal dengan sebutan Hindia Belanda.

Pada tahun 1725, Hindia Belanda (Indonesia) menjadi negara pengekspor kopi terbesar di dunia, dengan supply kopi terbanyak berasal dari Pulau Jawa. Dan saat itu pula Kopi Jawa menjadi sangat terkenal, bahkan sebelum Spanyol dan Amerika menjadi produsen kopi raksasa, karena bagi para pecinta kopi di Eropa rasa Kopi Jawa sangatlah enak.

Karena rasa dan kualitas kopi Jawa kala itu terbaik di dunia, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan istilah “A Cup Of Java” atau “Secangkir Jawa”. Dan itu berlangsung hingga abad ke 19.

Jadi “Secangkir Jawa” bukanlah asal nama yang direka-reka belaka saja, akan tetapi merupakan bukti nyata dari warisan sejarah budaya leluhur bangsa Indonesia. Setelah menyusuri sejarah bangsa pada zaman Hindia Belanda, kini saatnya kita kembali ke zaman kekinian.

Aktifitas Blogger Pemuja Makanan dipenuhi dengan catatan kisah perjalanan menjelahi berbagai sudut negeri, mencoba beraneka macam kuliner yang ada, dengan beragam tempat makan, hingga akhirnya sampai juga jejak kaki-ku di pulau Jawa, tepatnya di Propinsi Jogyakarta (2015).

Ditemani seorang blogger senior nan kondang yang ramah dan baik hati asal Jogyakarta, pak Akhmad Muhaimin Azzet, dengan berboncengan naik motor, kami pergi ke satu tempat yang diberi nama “Secangkir Jawa”.

Tempat yang dituju itu terletak di sebelah utara Stadion Maguwoharjo, setelah beberapa kali belok kanan, belok kiri, dan lurus  kami pun tiba di suatu jalan yang masih belum terkena pengaspalan, alias masih jalan tanah, dan lebarnya kira-kira satu mobil bisa melewatinya. Jalan-nya menurun pula, tak terbayangkan bila musim penghunjan tiba, bakalan becek dech ini jalannya.

Jalan Tak Beraspal Menuju Lokasi Secangkir Jawa

Akhirnya saya dan pak Azzet tiba di suatu tempat yang cukup luas pekarangannya, dan di bagian depannya ada sebuah gerbang, di mana di situ ada logo berupa secangkir kopi, serta tulisan yang bertuliskan “Secangkir Jawa”. Ternyata Secangkir Jawa adalah nama sebuah warung atau kedai kopi, yang cukup popular dikalangan anak muda Jogyakarta.

Tempatnya ditumbuhi banyak pepohonan, menjadikannya terlihat asri dan sejuk. Apalagi bangunan yang ada di lahan warung Secangkir Jawa ini didesain agar serasi dengan alam sekitar. Ini terlihat dari bahan-bahan material yang dipakai, seperti batang-batang bambu, dinding bata serta batako tanpa plesteran dan atap genteng khas Jawa.



Kulirik tampilan jam di layar handphone-ku, terlihat baru jam sembilan pagi lewat dua puluh menit. Masih teramat pagi, pantas saja belum banyak pengunjung yang datang. Mungkin baru saya dan pak Azzet, serta dua pasang pengunjung, sepertinya mereka mahasiswa, kalau melihat dari gaya dan penampilan, serta jinjingan tas laptop-nya.

Tapi motor yang terpakir di Secangkir Jawa kok banyak yaa, lalu pengendara-nya kemana gerangan semua-nya ???

Di Secangkir Jawa ini punya aturan yang tegas dan jelas, kalau mau pesan menu, silahkan pesan dan langsung bayar. Hal ini dipertegas dengan tulisan dekat bangunan yang berfungsi sebagai ruang kasir. Jadi-lah pak Azzet langsung membayar sesuai harga menu yang kami pesan, namanya juga aturang yang punya warung, jadi harus dituruti, kalau nggak mau di usir :-).

Pak Azzet lagi mau bayar di kasir


Pesananku adalah secangkir teh panas, dan pak Azzet satu cangkir kopi panas. Sementara menu pendampingnya berupa dua piring pisang goreng tabur keju dan dua piring kentang goreng. Saya rasa itu sudah cukup untuk mengganjal perut di pagi ini, sambil tukaran ilmu blogging bersama pak Azzet sebagaiman perencanaan sebelumnya.

Harganya lumayan murah loh, untuk semua yang sudah kami pesan, hanya membutuhkan dana sebesar tiga puluh Sembilan ribu rupiah untuk menebusnya.

Kami masuk di sebuah bangunan, mirip pendopo panjang yang terbuka, dan duduk lesehan di atas lantai ber-plur, yang di lapisi karpet vinyl yang tipis, dan sudah robek di sana sini. Tiang-tiang-nya terbuat dari bambu, demikian juga rangka kaso untuk atapnya.

Di belakang kami, mengalir air sungai jetis, yang suara alirannya berpadu dengan suara gesekan dedaunan tertiup angin semilir, serta suara kicauan burung, semua itu terdengar bagaikan sebuah symphoni alam yang indah sekali, menjadi penghibur bagi diriku yang sudah sangat jarang menemui hal-hal yang natural semacam ini.


Koneksi Wi-Fi di Secangkir Jawa lumayan kencang, hal itu sungguh melancarkan aktifitas browssing dan berbagi ilmu blogging sesama blogger, dengan menggunakan laptop pak Azzet.

Warung Secangkir Jawa ini ternyata buka selama 24 Jam non-stop, dan konon kabarnya, bila malam hari maka suasana sangatlah ramai, karena dipadati oleh para pengunjung, baik usia tua maupun muda.

Meskipun para pengunjung yang datang didominasi oleh kaum muda, namun untuk berbuat hal-hal mesum, tak mungkin dilakukan, karena tempat-nya semua serba terbuka, tak ada yang tertutup, kecuali toilet-nya.

Apalagi mau mabuk-mabukan dengan miras dan narkoba, sangat terlarang di kawasan Secangkir Jawa choyyy, jangan coba-coba yaaaa.

Akhirnya terjawab sudah pertanyaanku seperti yang tertulis di atas, yaitu, kemana semua pengendara motornya, sementara motor yang terparkir lumayan banyak. Rupanya motor-motor itu milik karyawan Secangkir Jawa yang ketiduran, karena lelah melayani pengunjung semalaman,,, pantes saja orangnya tak kelihatan, Cuma motornya yang nampak.

Aturan ekonomi yang mengatakan, kalau mau usaha atau jualan laris manis, maka harus memiliki tempat usaha di tempat yang strategis atau di tepi jalan yang ramai, ternyata dipatahkan oleh warung Secangkir Jawa. Karena warung ini letaknya bukan di pinggir jalan yang ramai, malah terletak di ujung jalan kecil, yang tidak beraspal.

Tempatnya juga tidak strategis, karena terletak di lokasi yang sunyi, jauh dari keramaian dan suara kendaraan nyaris tak terdengar. Malahan lokasinya terlihat sangat ndeso banget, kalau memakai istilah orang kota, kesannya lokasi Secangkir Jawa itu kampung-an sekali.

Menu yang kami pesan

Pak Azzet (kiri) dan Saya [Hariyanto]

Akan tetapi, karena kesannya ndeso banget, udik dan karena kampung-an sekali itulah yang menyebabkan orang ramai yang datang berkunjung ke Secangkir Jawa, karena para pengunjung ingin merasakan warung dengan suasana ndeso, udik dan kampung-an, yang sungguh jauh berbeda dengan suasana warung di perkotaan yang bising.

Selain itu saat saya berkunjung (2015), harga menu-nya juga lumayan murah, mulai dari Rp.3.000,- hingga Rp. 11.000,-, tidak bakalan membuat saku kantong atau dompet sahabat-sahibit blogger se-dunia menangis dan menjerit. Dan rasa kopi-nya kata Pak Azzet, tak kalah dengan rasa kopi di warung-warung kopi ternama, demikian juga dengan rasa teh-nya, seperti yang saya minum.

Sebenarnya saya ingin sekali melihat dan merasakan suasana di lokasi Secangkir Jawa pada saat malam hari, ingin merasakan kehangatan keramaian-nya, membayang ramai-ramai berkumpul di malam hari, di tengah lokasi yang jauh dari hingar bingar kesibukan kota, sungguh menggiurkan.

Namun apalah daya, waktu yang tak memberikan peluang untuk merasakan hal itu. Cukuplah di pagi ini. alhamdulillah, saya bisa sempat berkunjung di Secangkir Jawa, yang memberikan bukan hanya secangkir, namun jutaan cangkir sensasi kesan perpaduan antara sajian menu dan swara alam yang sungguh nikmat tiada tara, yang hampir mustahil bisa kudapatkan di warung-warung atau kedai-kedai kopi yang pernah kukunjungi.

Mungkin di lain waktu serta di lain kesempatan, bila ALLAH SWT mengizinkan, maka saya bisa berkunjung kembali ke warung Secangkir Jawa, tentunya berkunjung di malam hari.

Bila demikian, sebaiknya artikel ini kuakhiri sampai di sini saja, karena kuatir akan menjadi terlalu panjang, sehingga membosankan bagi para pengunjung yang membacanya.

Tabe salama’ ki’
Keep Happy Blogging Always, Mari Ki’ Di’
Salam Kuliner :-)

SHARE

About Hariyanto Wijoyo

6 komentar :

  1. secangkir jawa yang menjadi legenda tersebut ternyata kisahnya sangat panjang, akibatnya cuma sempat baca judulnya doangan deh tuh ah

    BalasHapus
  2. wah ada kisah dari secangkir jawa ya, nice

    BalasHapus
  3. Aku suka nih tempat kek gini. Penasaran

    BalasHapus
  4. Rasa secangkir jawanya makjeb mantap di lidah hingga di hati yang akan mengundang selalu dalam ingatana rasa kangen untuk selalu bertemu ya kang. ha,, ha,, ha,,

    BalasHapus
  5. bikin pengin mampir ini pak... ada jajanannya nggak?

    BalasHapus
  6. Alhamdulillaah..., di Secangkir Jawa saya mendapatkan ilmu ngeblog dari Blogger Senior bernama Pak Hariyanto :) Terima kasih banyak lho, Pak, atas berkenan jalan-jalan berdua bareng saya. Semoga kapan-kapan kalau ke Jogja kita explore tempat-tempat yg unik lainnya ya, Pak.

    BalasHapus

Tiada kesan tanpa jejak komentar sahabat-sahibit yang menakjubkan :-D